Guar Tangar, Sebuah Lagu Penguat Hati Anak-anak Rantauan

Lagu yang penuh emosi, yang selalu berhasil membuat mata berkaca-kaca.

Pagi ini adalah pagi ketiga saya mengantarkan Quin ke Play Group-nya dan seperti dua pagi kemarin, ia masih saja menangis ketika ditinggal.
Kata gurunya ini biasa di hari-hari pertama, pelan-pelan dia akan terbiasa dan senang. Oke, saya faham dan saya mengerti. Mungkin nanti Quin yang akan meminta saya untuk mengantarnya ke sekolah dengan segera dan meminta saya untuk tidak perlu cepat-cepat menjemputnya, ketika itulah nanti saya yang akan sedih, merindukannya, menginginkan ia di rumah terus. hehehe.

Semakin kesini saya semakin faham bagaimana perasaan orang tua saya ketika saya mulai bersekolah lalu bersekolah keluar kota. Dan lagu ini adalah pengingat pada kenangan itu.

Sepanjang lagu ini saya terbawa ke masa ketika betapa sulitnya orang tua saya melepas saya untuk sekolah ke luar kota. Bagaimana saya melangkah menjauh dari kenyamanan rumah untuk menempa diri. Betapa pada saat itu saya dan orang tua saya saling menguatkan diri masing untuk tidak menyerah pada kesedihan dan keterbatasan.

Hari itu adalah hari dimana anak panah telah terlepas dari busurnya. Hari itu adalah hari dimana seorang anak laki-laki melangkah meninggalkan rumah dengan bekal berjuta-juta doa dari mereka yang mencintai, meski mereka tau bahwa sejak hari itu sang anak bulan lagi milik mereka sebenarnya, mereka telah menyerahkan sang anak pada alam dan zamannya. Berharap bekal nasehat dan petuah sejak kecil menjadi tameng.

Senang dan Membosankan Menjadi Pendidik

Bagian paling membosankan jadi seorang pendidik di sekolah adalah mengerjakan administrasi dan menghadapi supervisi. Bagian paling menyenangkan adalah berinteraksi bersama anak-anak dengan bermacam-macam karakter, dari yang kalem sampai yang liar. Meski kadang saya harus berpura-pura marah pada mereka toh ujung-ujungnya saya akan bilang kalau saya sayang sekali sama mereka. Polos, lucu dan kadang menjengkelkan hehehe.
Tadi siang dua murid saya yang memang polos (termasuk kategori inklusi) datang pada saya sewaktu jam istirahat olahraga. Saya yang sedang duduk di ruang guru menebak-nebak dia akan bertanya atau melaporkan sesuatu.

"Pak guru, hari ini saya tidak pakai celana dalam.."
Sontak, seorang siswa kelas di depan ruang guru berteriak mendengar itu,
"Hahaha, Iiih Damar ini, kok itu-itu aja pakai kasi tau pak guru, hahahaha"
"Tapi benar pak, celana dalam saya basah jadi saya tidak pakai celana dalam. Tidak apa-apa kan pak Guru" Damar malah terus saja dengan kepolosannya.

Demi Allah saya susah payah menahan tawa.

Terjebak Hujan (dan Nostalgia)

Sama halnya dengan hati perempuan, cuaca sekarang-sekarang ini nampaknya susah untuk diprediksi. Apakah akan hujan atau akan panas sepanjang hari. Seperti hari ini, sejak jam 8 pagi cuaca sudah memberikan isyarat bahwa sepanjang hari ini akan panas dan terik. Benar saja, sampai selesai Adzan Ashar matahari masih panas menyengat padahal  hari sudah hampir petang. Saya dan para gadis di rumah berencana jalan-jalan sore sekalian mencari tempat untuk membeli batu-batu halus yang akan kami pakai untuk menghiasi lantai pancuran tempat wudhu yang sedang dikerjakan oleh tukang hari ini. Meski cuaca panas anak-anak tetap kami pakaikan jaket karena biasanya sore hari angin mulai menjadi dingin. Kami pun memulai perjalanan sambil sama-sama bernyanyi, bernyanyi apa saja sepanjang jalan. Tujuan kami adalah Wilayah jalan lingkar Utara, Sayang Sayang. WIlayah Sayang Sayang adalah wilayah yang banyak terdapat penjual bunga, ikan segar dan segala sesuatu yang berbau taman. Misalnya batu alam, batu sikat, batu halus dan entah apalagi jenis batu-batu untuk bangunan itu. Tentu saja selain batu akik. Karena batu akik penjualnya lebih senang berkumpul di emperan toko di sepanjang kota tua Ampenan.

Belum setengah perjalanan tiba-tiba mendung mulai menggumpal dari arah timur laut. Pelan-pelan langit mulai menggelap lalu mendekat, semakin menghitam. Saya diam, istri saya diam anak-anak tetap bereloteh riang. 

Sepertinya akan hujan besar ini, kita putar arah saja ya. Pulang. 

Oke, ayah tapi kita lewat Pejarakan ya, siapa tahu ada makanan enak.

Arah perjalanan pun sudah berbelok ke arah rumah namun melewati jalan yang tidak sama seperti kamu memulai perjalanan tadi. Mendung semakin menggumpal, semakin terlihat kepayahan menahan air yang sepertinya sudah tak kuasa menahan diri untuk segera mendekap bumi, meresap ke dalam pori-pori tanah, mengaliri setiap cerukan di tanah. Meski begitu saya tetap memastikan bahwa saya tidak ngebut, mengingat udara sudah mulai dingin. Anak-anak sudah tidak ribut lagi, Quin bertanya apakah sebentar lagi akan ada petir? Saya jawab sepertinya begitu, maka itu kita harus segera sampai di rumah sebelum hujan besar dan kita terjebak. 

Pak Guru, Rangga Kentut!

Tiba-tiba dengan sangat cepat bau busuk itu menyebar keseluruh ruangan kelas. Tidak butuh waktu lama untuk seisi ruangan mengendus bau busuk itu. Anak-anak mulai mengeluh bau dan ada yang sampai lari keluar dari tempat duduknya. Tidak butuh waktu lama juga untuk tahu darim mana sumber bau busuk itu. Yah, ini bukan bau dari luar kelas ini bau kentut! 
Damar, salah siswa yang "istimewa" di kelas berdiri dan melaporkan sumber bau busuk itu pada saya dengan gaya khasnya, muka polos dan nada bicara yang meski sedang marah tetap terdengar lembut. Hanya ekspresi wajahnya yang memperlihatkan kegelisahan dan ketidaknyamanannya pada bau busuk itu.
"Pak Guru, Rangga kentut! baunya kayak bau bangkai ayam!"
Rangga, teman sebangkunya yang bertubuh kurus ceking dengan kulit kering, rambutnya berdiri seperti jarum-jarum yang menancap yang lakunya agak kemayu terbelalak terkejut namun ada eskpresi legah yang terlihat di wajahnya. Seisi kelas mulai riuh, nada protes dan kesal tertuju pada Rangga. Saya sendiri susah payah menahan bau yang memang benar seperti bau bangkai ayam itu. Sambil berusaha menahan nafas selama mungkin, saya berdiri dan memastikan siapa yang buang gas sembarangan itu.

Instagram