Tipe Guru yang Tak Terlupakan oleh Muridnya

HUBUNGAN guru dan siswa ternyata hubungan yang indah untuk dikenang. Nggak kalah indah dengan mantan pacar. Kadang berlangsung rumit, kadang terasa romantis, tapi sesekali menegangkan dan terasa penuh konflik.

Bagi saya, hubungan guru bukan hubungan transkaisonal di kelas semata. Hubungan dengan guru juga hubungan kultural dua manusia beda usia. Oleh karena itu, ketika siswa dan guru harus berpisah, kenangan dengan guru akan melekat erat. Tidak jarang, seorang siswa mengingat gurunya hingga ia tua. Ibu saya sendiri masih ingat guru-guru plus karakter gurunya seperti apa, bukan cuma ibu saya, kakek sayapun masih ingat siapa guru-gurunya, seperti apa kelakuan gurunya yang tak terlupakan dan diingat hingga beliau sudah punya cucu yang udah punya anak dua.  Tapi, memang harus diakui, tidak semua sosok guru mudah dikenang. Biasanya hanya guru-guru dengan karakter khusus yang diingat siswanya hingga tua. Guru yang berbeda dan punya "sesuatu" yang bisa membuat siswa nyaman, tertawa, bahkan takut. Hal-hal yang cenderung hanya guru tersebut yang memiliki karakter tersebut di sebuah sekolah seperti di atas yang membuat sang guru tak akan terlupakan. Bahkan saya dulu sering sekali mimpi buruk di suruh jawab soal kimia oleh ibu Dian guru SMA saya yang cantik tapi jutek luar biasa hehehe semoga sih sekarang udah gak. Ini hanya semacam kesan dari seorang murid ya bu Dian.

Nah, Berikut beberapa di antaranya guru-guru yang tak akan terlupakan oleh murid-muridnya :
Read More

Kelas Inspirasi Lombok : Satu Hari Untuk Selamanya

Adalah suatu hari ketika seorang sahabat saya Surya dan Istrinya Fira yang begitu baik mengajak saya untuk menjadi panitia Kelas Inspirasi di Lombok. Ide ini muncul bukan seketika, tapi ada sejak mereka berdua ikut Kelas Inspirasi di Bali. Penuh antusias mereka bercerita tentang betapa hebatnya relawan-relawan di Kintamani, ramahnya penduduk disana dan betapa bahagianya siswa-siswa yang kedatangan relawan pengajar. Mungkin moment itu akan salah menjadi kejutan terindah di masa kanak-kanak mereka. Pengalaman dan cerita dua sejoli ini kemudian menjadi sebuah awal dari Kelas Inspirasi Lombok dan bertambahnya kepekaan hati saya melihat ternyata masih banyak anak-anak disekitar kita yang bahkan untuk bercita-cita saja mereka masih tidak berani, malu-malu dan tidak tahu cita-cita itu apa.

Akhirnya kami dan beberapa teman lainnya mulai merencanakan kegiatan kelas inpsirasi di Lombok. Saya semakin percaya bahwa Allah itu selalu mempertemukan kita dengan orang-orang yang sesuai dengan karakter, kepribadian dan visi misi hidup kita. Buktinya kami yang tadinya tidak saling mengenal menjadi akrab dan berbagi semangat di kelas inspirasi. Karena misi kami sama, kami ingin berbagi dengan anak-anak yang berada jauh terpencil di atas-atas bukit sana, di lembah-lembah sana. Berbagi semangat dan kamipun mendapatkan semangat baru dan pandangan tentang arti hidup yang semakin saya mengerti.
Read More

The Sister : Quin & Deeva

Deeva (3bulan) mulai bisa tengkurap dan mengerti beberapa hal sederhana seperti suara-suara, warna warni, ingin menjangkau dan merespon dengan tertawa, dan gembira. Sementara kakaknya Quineeta (2tahun) semakin hari semakin pintar dan semakin banyak hal baru yang ia bisa terutama dalam hal verbal atau kata-kata. Semakin banyak perbendaharaan kata-katanyanya. Lucu dan seru berbicara sama dia. Dia juga tidak segan bertanya jika ada kata-kata baru yang ia baru dengar, ia juga tidak malu bertanya saya mau kemana, tadi ketemu siapa di jalan, ngajak jalan, dan lain-lain. Pelafalan kata-katanya juga hampir sempurna, huruf "R" yang belum bisa ia sebutkan dengan benar, selebihnya sudah mantap. Betapa bahagianya menjadi seorang Ayah dari dua gadis kecil yang pintar, cantik dan lucu-lucu ini.

Senang sekali melihat Quin sangat menyayangi adiknya. Walaupun kadang-kadang dia mencium adiknya sampai adiknya menangis. Ia masih belum tau bagaimana membuat adiknya nyaman. Sejauh ini rasa cemburu pada adiknya tidak berlebihan dan malah mulai memudar. Jadi walaupun mereka senang dan tenang main bersama saya dan istri saya tetap mengawasinya. saya sepakat dengan kata seorang psikolog dan dokter yang bilang bahwa umur dua tahun adalah umur yang ideal untuk seorang anak memliki adik.Walaupun saya tidak begitu jelas apa alasannya tapi saya bisa menyimpulkan alasannya sendiri. Umur dua tahun anak-anak masih dalam tahap mencari arti segala macam hal, ia belum punya rasa iri atau cemburu, yang ia tahu banyak berbahagia dan bermain dengan kasih sayang orang tuanya. Nah jika sebagai orang tua kita bisa tetap memberikan perhatian pada si kakak maka peluang untuk kakak adik ini menjadi akrab dan saling menyayangi sangat besar. Wah semoga Quin dan Deeva tetap kompak sampai dewasa.
Read More